Selasa, 07 September 2010

Cerpen


EGOKAH AKU

            Tiba-tiba Daniel muncul dihadapanku, jujur kehadirannya akan membuat perasaanku tidak karuan. Dengan setengah hati ku sodorkan senyum padanya yang sudah duduk tanpa permisi.
“Sel, aku nyesel banget jadian ma Silya dia orangnya ribet and so ngatur-ngatur beda ma pacar-pacarku yang lain, mungkin kalau Missel jadi pacaraku ga bakalan gitu kali yach?”
            Aku kaget mendengar perkataan tadi, perasaan ku semakin tidak karuan rasa was-was dan gugup menyertaiku.
“A….pa.. maksud kamu ?” tanyaku gugup
“Enggak kok cuma bercanda” gumamnya.
            Aku pun sedikit tenang tapi, aku kecewa karena dia tidak meneruskan maksudnya. Aku sangat berharap dia mengatakan sesuatu kepadaku yang sangat aku nantikan selama 3 tahun ini tapi, sayang waktu berkata lain dia pun tidak meneruskan pembicaraanya tadi. Aku pun melupakan hal tersebut.
***
            Ruang perpustakaan yang sangat nyaman dan tenang adalah tempat faforitku karena aku bisa menenangkan pikiranku dan berkonsentrasi dalam pelajaran. Dengan tiba-tiba ada seseorang yang menghampiriku.
“Kenapa?” tanyaku akhirnya, karna dia masih bungkam
“Sedih”.
   Tanpa diberitahu pun aku yakin semua orang yang melihat wajahnya saat ini pasti sudah dapat menebak suasana hatinya.
“Kenapa?” tanyaku lagi sambil melihat wajahnya dengan seksama.
“Patah hati” dia mendesah pelan.
“Silya?”
“Hmmmm…..!”
“Oh…”
            Cerita lama itu terulang kembali. Entahlah, ada riak kecil menyergap dinding hatiku. Riak gembira. Namun buru-buru ku usir sebelum semua itu meracuni seluruh pembuluh darahku.
***
Minggu keminggu pun berlaru, hari ke hari pun telah dilewati. Sudah beberapa minggu ini dia tidak bercerita lagi tentang kisah cintanya kepadaku. 

Aku berpikir mungkin dia belum punya pengganti Silya dalam arti belum punya pacar lagi.
            Aku dan Daniel semakin akrab saja, hanya sebatas teman tak lebih. Aku sempat berpikir bagaimana jika aku katakan saja perasaanku yang sebenarnya kepada Daniel namun, aku berpikir kembali mungkin bila aku jujur aku akan kehilangan dia dan tidak akan akrab lagi.
            Aku pasrah, aku memilih jadi orang munafik, berpura-pura ikut bahagia dengan cerita jatuh cintanya yang indah, ikut bersimpati saat dia ditinggalkan oleh cintanya. Aku lebih memilih jadi sahabatnya agar bisa tetap berada di dekatnya dari pada harus kehilangan dia karena kejujuranku tentang perasaanku terhadapnya. Aku menikmati perihku.
            Sepulang sekolah aku diajak oleh Daniel makan siang disuatu tempat. Pada hari itu benar-benar hari yang terindah dalam hidupku kami makan berdua direstaurant yang romantis tempat dia dan mantannya kencan dulu. Setelah makan aku diajak maen ke tempat-tempat yang sangat mengesankan bagiku kami melewatinya bagaikan sepasang kekasih karena kami kemana-mana selau berdua.
            Kami pun pulang karena hari sudah sore. Tak terasa sudah sampai dirumah aku pun turun dari motornya. Sebelum pulang Daniel sebuah memberiku boneka tedy bear yang lucu sebagai tanda terima kasih dan sambil membisikkan ucapan selamat malam ketelingaku. Daniel pun pulang.
            Langit-langit kamar tersenyum, dinding, lampu, semua tersenyum. Aku pejamkan mata. Bukan mau tidur, tapi membayangkan makan siang tadi dengan Daniel. Serba indah, serab berbunga….

***
            Pagi hari disekolah seperti biasa aku dan teman-teman duduk di tempat kita nongkrong, ketika kami ngobrol Daniel pun lewat tapi tidak seperti biasanya dia menggandeng seorang cewek yaitu Nadin, Daniel dan Nadin berjalan di depan kami dengan mengumbar kemesraan sepertinya memeng mereka pacaran  karena tepat di depan ku Daniel mencium kening Nadin.  
            Melihat kenyataan tersebut aku benar – benar syok sebuah kisah yang akan membuat satu goresan baru lagi di hatiku yang sudah penuh sayat. Aku tak bisa Berkata apa pun kejadian ini benar-benar sangat menusuk hatiku ini aku berlari entah kemana tanpa tujuan yang jelas. Aku berusaha untuk tidak meneteskan air mata namun ku tak bisa karna ini terlalu sakit bagi ku kenyataan yang sangat pahit dalam hidupku.
            Sampai pada akhirnya aku tiba disalah satu tempat, aku tak tau tempat itu dimana mungkin karena aku sangat cemburu melihat mereka berdua sehingga aku pun tidak terlalu memperhatikan diamana sekarang aku, disana aku menangis, aku kecewa, aku tak tau harus berbuat apa lagi, sakit hati ini seperti diiris pisau yang tajam. Semua yang aku lakukan hanya demi mendapatkan perhatiannya dalam sekejap semuanya hilang dengan sia-sia.
            Semua mimpi-mimpiku hanya akan menjadi kenangan yang mustahil untuk dikabulkan, aku benar-benar tidak kuat melihat Daniel dan Nadin bahagia. Sedangkan aku hanya menagis melihat kenyataan ini aku benar-benar tidak rela.

***
            Mungkin dia bingung dengan sikap dingin ku akhir-akhir ini. Biarlah aku masih belum bisa merelakannya. Aku telah cukup banyak menghabiskan tenaga hanya untuk bisa terus berada didekatnya dengan segala kisah cintanya yang membuat aku terluka…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar